Subscribe:

Pages

Tampilkan postingan dengan label Cara Merawat Ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cara Merawat Ikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2012

Cara Merawat Kelomang


Zona Ikan Kita - Pengin piara kelomang biar awet dan tak cepat mati? Bisa kok, caranya juga enggak rumit. Semisal yang dilakukan Martha susanti. Lebih dari 100 ekor kelomang bisa hidup bertahun-tahun. beginilah caranya merawat kelomang yang baik dan benar.


Barangkali banyak yang beranggapan kalau kelomang hanyalah piaraan para bocah. Namun bagi Martha Susanti piara kelomang justru sangat mengasyikkan dan menantang. Maklum saja biasanya kelomang hanya bertahan beberapa hari lantas mati karena salah rawat. “Awalnya saya juga gitu, ilang atau mati melulu. Lantas saya banyak belajar dari buku dan internet, sekarang hampir tak pernah ada yang mati lagi” ujar Martha bangga. Pecinta kelomang yang tinggal di Menteng, Jakarta Pusat merasa kelomang adalah satwa unik. Tampang lucu, kelir beragam, cangkangnya juga tak kalah cantik. Memang kelomang tak bisa diajak bermain seperti anjing atau kucing. Kebanyakan mencapit kalau dipegang. “Saya tertarik perhatiin tingkah laku mereka. Dan kalau diliatin mereka juga suka liatin balik kayak ngerti gitu,” aku alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti.

Media pasir tebal

Siapkan tempat tinggal yang nyaman, kalau pengin adopsi kelomang. Biasa disebut crabitat, singkatan dari crab habitat. Paling mudah memakai akuarium. Jumlah kelomang yang bisa dipelihara tergantung luas akuarium. Semisal akuarium ukuran 60 cm maksimal menampung 10 kelomang berdiameter sekitar 3 cm. “Supaya kelomangnya punya ruang untuk jalan-jalan,” terang Martha.

Crabitat lantas diberi media pasir laut. Banyak kok dijual oleh pedagang ikan hias. Pasir berfungsi untuk mengubur diri waktu molting alias ganti kulit. Saat molting bagian tubuhnya sangat lunak. Kalau enggak bersembunyi bisa mati karena diserang temannya. “Kelomang sangat rentan mati waktu ganti kulit. Makanya pasir harus tebal, paling aman ya sekitar 10 cm,” ujar Martha.

Crabitat bisa dihias dengan batu karang dan ornamen kayu. Bisa juga ditambah dengan ranting pohon dan tanaman. Selain menambah cantik, juga mewadahi hobi memanjat si kepiting pertapa. Kelomang memang suka banget memanjat. Semisal Sirius, kelomang indos kesayangan Martha, yang suka banget mejeng di atas ‘singgasana’ dari ornamen kayu. “Kalau sudah nangkring, bisa sampai sore enggak turun-turun,” ujarnya.

Butuh air tawar

“Oya, jangan lupa selalu sediakan air tawar dalam crabitat,” kata Martha mengingatkan. Kelomang butuh minum seperti mahluk hidup lain. Untuk menjaga kelembapan tubuh, kelomang juga akan menyimpan air dalam cangkang. Di habitat asli, kelomang mencari embun di rumput dan pepohonan. Mereka suka banget udara lembap. Semisal habis hujan, mereka akan jadi lebih aktif. Coba saja spray sedikit air, mereka bakalan senang.

Soal makanan sangat bervariasi, soalnya kelomang adalah satwa omnivor alias pemakan segala. Menu favoritnya adalah kelapa. “Kelomang yang hidup di pantai memakan buah kelapa yang jatuh dari pohon,” terang Martha. Kelomang suka buah yang berbau harum. Semisal semangka, tomat, pepaya, mangga dia suka. Kalau sayur, kelomang paling doyan selada.

Kelomang doyan juga makan hewan-hewan kecil. Apalagi kalau dapat menu udang pasti berebutan. Bau udang yang khas akan mengundang kelomang untuk datang menyantap. “Saya suka kasih udang goreng. Kalau dikasih mentah crabitatnya jadi bau amis,” ujar Martha.

Sekarang Martha menyiapkan bak akrilik bulat berdiameter 3 m. lantas didesain jadi crabitat menyerupai pantai. Separuh pasir dan separuh air laut yang berfilter. Kelomang bakal merasa nyaman seperti di alam asli. “Saya siapkan khusus supaya kelomang nyaman dan bisa berkembang biak. Dan bisa melepas telurnya ke air, semoga mau menetas,” terangnya.

Rabu, 25 Januari 2012

Cara Merawat Arwana ( 2 )


Zona Ikan Kita - Setiap akuarium, sebaiknya hanya ada seekor arwana saja (soliter), sebab tidak mudah bagi seekor arwana untuk hidup berdampingan dengan ikan sejenisnya. Untuk mendapatkan ikan arwana yang berkualitas dan sehat tentunya dibutuh kondisi dalam akuarium yang nyaris sama dengan habitat aslinya. Makanan harus cukup dan diberikan secara teratur, kualitas air juga terkontrol dengan baik dan diberi obat-obatan agar tidak tercemar oleh zat-zat kimia yang beracun.


Kondisi Akuarium 
Siapa pun yang memelihara arwana pasti dengan bangga akan menempatkan ikannya di kuarium terbaik. Agar keanggunan itu terpantul maksimal, maka hanya seekor arwana saja dalam satu akuarium. Jangan meletakkan akuarium di dekat dinding (tembok) apalagi sampai menempel. Sebab bila arwana melihat serangga seperti kecoa atau cecak di dinding, ia akan melompat dan menyeruduk dinding kaca aquarium, sehingga bisa luka. Perhitungkan besar akuarium dengan besar ikan, agar ikan bisa bergerak bebas dan meluncur di ruangan yang cukup. Beri penerangan yang memadai. Untuk mengontrol suhu air (27-30 derajat Celcius), sebaiknya dipasang termometer di dinding akuarium dan ujungnya tercelup ke air. Ukur pH sekurangnya seminggu sekali.

Memberi Makan
 
Meskipun tidak ada patokan, sebaiknya arwana diberi makan 3 – 4 kali sehari. Dibutuhkan 8-10 ekor jangkrik sehari. Sebelum diberikan, kaki belakang jangkrik yang bergerigi dipotong dulu, agar tidak menggores kerongkongan arwana. Harus diusahakan agar makanan tidak tersisa di aquarium. Jangkrik, kelabang, kecoa dan udang, mengandung zat karoten dan kitin yang bisa memberi efek sisik yang indah, cerah dan mengkilap pada arwana.

Kualitas Air
 
Selain suhu dan pH, maka kualitas air juga dijaga dengan membuang kotoran air yang berasal dari kotoran ikan itu sendiri dan sisa makanan. Dengan saringan, kotoran bisa diangkat, sedangkan kotoran yang mengendap di dasar akuarium disedot dengan selang. Melakukannya harus pelan-pelan agar ikan tidak stres akibat air berguncang hebat. Setiap tiga bulan akuarium dikuras total dan kaca harus bebas dari lumut, dan sabuni dinding akuarium dan bila sudah, keringkan dengan sinar matahari, agar jamur dan bibit penyakit mati. Air baru dalam akuarium harus diendapkan dulu 24 jam sebelum ikan dimasukkan kembali ke akuarium. Kandungan oksigen dalam air harus dijaga dengan memasang aerator yang sekaligus berfungsi sebagai pompa dan saringan kotoran.

Menggabung Arwana dalam Satu Akuarium 
Yang ideal dua ekor arwana dicampur ketika masih kecil. Namun bila sudah dewasa umumnya bisa asalkan akuarium diberi sekat kaca. Bila kedua ikan terlihat marah dengan membuka mulut lebar-lebar, berarti keduanya tidak akur. Bila dalam seminggu tidak ada perubahan, berarti mereka tidak cocok. Ambil ikan yang lain, lakukan cara serupa, bila tidak memperlihatkan kemarahannya, berarti cocok, pelan-pelan kaca sekat dilepas. Amati seksama. Bila keduanya tidak saling mengejar. Berarti mereka bisa hidup damai.
Pakan
 
Setiap minggu, seekor arwana diberi makanan tambahan 2-3 ekor kadal yang tidak terlalu besar dan setiap dua minggu diberi tiga ekor kelabang. Kelabang atau lipan ini termasuk makanan favorit arwana, sehingga harus hati-hati memberikannya. Jika setiap hari diberi kelabang, maka arwana akan enggan memakan jangkrik atau kodok sekali pun. Dia hanya mau makan kelabang.
 
Namun begitu, seekor ikan arwana memburu kelabang di dalam air adalah sebuah atraksi menarik di dalam akuarium Anda. Karena kelabang mampu bergerak sangat cepat meskipun di dalam air, maka arwana pun harus mempertontonkan ’’kemahirannya” berburu makanan. Ia akan meliuk-liuk dan terus mendesak kelabang, sampai akhirnya bisa menangkap dan menelannya.
 
Arwana juga mau makan ikan hidup. Umumnya di Indonesia diberikan ikan mas dan sepat yang masih anakan. Namun harus berhati-hati, sebab bukan mustahil ikan membawa bakteri dan penyakit itu juga akan menjangkiti arwana. Udang mati pun disukai arwana, namun untuk pemeliharaan di akuarium, sebaiknya tidak usah diberikan, sebab akan membuat air akuarium keruh dan sisa makanan itu akan mudah membusuk dan menimbulkan penyakit bagi arwana.
 
Agar arwana tidak juling jangan menyebarkan makanan sekaligus ke dalam akuarium. sebab akan membingungkan arwana dan matanya akan menatap ke segala arah. Berikan jangkrik atau kelabang satu persatu, sehingga ikan hanya akan memburu satu mangsa saja.
 
Sebenarnya arwana juga memakan kecoa, cicak, laron atau belalang, sebagai selingan jangkrik. Namun, arwana jangan terlalu sering diberi makan cecak, matanya tidak melotot atau tersembul ke luar.
Agar arwana tetap sehat dan berkualitas, yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga air akuarium tetap bersih sehat dan cocok untuk habitat arwana. Maka dari itu, dibutuhkan beberapa obat untuk menjernihkan air dan menjaga agar kondisi akuarium cocok sebagai habitat arwana. Obat-obatan ini umumnya sudah dikemas dalam bentuk jadi, sehingga bisa langsung dibeli di pedagang ikan hias dan mencampurkannya ke air akuarium sesuai dosis yang dianjurkan.

Penyakit
 
Penyebabnya terbagi dua, yakni organisme nonparasiter dan parasiter. Organisme parasiter yang berasal di virus, bakteri, jamur, cacing atau protozoa. Sedang yang nonparasiter seperti faktor lingkungan, makanan dan keturunan. Namun pada kenyataannya, serangan kedua jenis penyebab penyakit itu sulit dibedakan.
 
Ada ciri-ciri khas ikan arwana yang teserang penyakit, baik akibat dari parasiter maupun nonpasrasiter, yakni terlihat pasif dan lemah, cenderung berenang di permukaan air, nafsu makan menurun, sulit bernapas, tubuh ikan tidak licin, karena selaput lendir berkurang, sehingga ikan mudah ditangkap. Tanda lainnya, pada bagian dada terjadi pendarahan dan sisik rusak, sirip punggung pecah-pecah.
 
Faktor lingkungan yang menyebabkan ikan sakit antara lain, pH air. Fluktuasi pH air ini dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti terdapatnya gas CO2 di air. Kemudian perubahan suhu air yang secara tiba-tiba juga sangat mempengaruhi kesehatan ikan. Selain itu berkurangnya jumlah oksigen di dalam air dan adanya gas beracun seperti CO2, amoniak dan polusi air juga akan mengganggu kesehatan ikan. Kemudian faktor makanan, seperti sudah disinggung di atas tadi, memberi makanan ikan segar akan riskan, sebab ikan bisa membawa penyakit. Lalu faktor keturunan juga membawa masalah pada arwana, seperti sisik yang tidak bagus, punggung tidak lurus atau albino dan kembar siam.
 
Organisme parasiter dapat menimbulkan gejala-gejala infeksi kutu ikan, insang busuk, bintik putih, cacar dan tuberkolosis, terinfeksi jamur Saprolegnia dan Achlya, bakteri perusak sirip dan penyakit gatal.
Bila kita melihat betapa indah dan anggunnya ikan arwana di akuarium, apalagi ketika ia mengejar mangsanya, kita akan terpesona dan kagum. Namun untuk itu, arwana juga membutuhkan perawatan yang saksama dan hati-hati. Sebab banyak jenis penyakit yang siap ’’menerkamnya”.