Subscribe:

Pages

Tampilkan postingan dengan label Teknik Mancing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Mancing. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

Teknik Mancing Trolling Tuna


Tuna merupakan salah satu jenis ikan yang berkelompok dan selalu berenang secara bersamaan dengan memiliki bobot ikan yang bervariasi. Memperoleh hasil tangkapan tuna inilah yang dapat membuat para mania mencoba mencari sensasi tersendiri.


Bagi para mania mancing kawakan, memancing tuna dengan teknik trolling ternyata masih dapat menghasilkan tangkapan yang kali ini akan diuraikan beberapa trik mancing tuna dengan teknik trolling.

Teknik mancing trolling dengan menggunakan umpan buatan/ lure trolling, dimana suatu teknik memancing dengan cara membentangkan umpan buatan di ujung tali senar yang ditarik dengan perahu berjalan dimaksudkan demi menarik perhatian ikan sasaran dengan kecepatan berjalan perahu yang konstan pada 7 – 10 knot.

Beberapa corak warna yang bisa digunakan pada lure/ umpan buatan pilihan para mania, seperti warna hijau gelap, hitam, ungu, kuning, merah dan hot pink/ merah muda. Penggunaan umpan lure ini dengan cara mengkombinasikan warna-warna umpan tersebut demi mencari ikan sasaran.

Teknik lainnya yang juga dapat digunakan dengan menggunakan teknik trolling adalah dengan cara menggunakan umpan hidup/ live bait dan juga menggunakan umpan mati/ death lure. Dengan mengkombinasikan dua jenis umpan ini pun juga dapat memberikan respon positif dengan hasil yang baik.
Umpan hidup dan juga umpan mati yang digunakan seperti ikan ekor kuning serta meckarel ternyata cukup handal menarik perhatian tuna yang cara penggunaannya adalah dengan teknik trolling sejauh 40 – 50 meter dan mengapungkannya dalam 2 (dua) ujung tali senar serta posisikan umpan di kedalaman 8 – 10 meter di bawah permukaan air.

Memancing tuna dengan menggunakan teknik trolling ternyata memiliki sensasi tersendiri bagi para mania yang berburu jenis ikan tersebut yang dikarenakan tuna memiliki tenaga yang dahsyat saat bertarung terlebih dengan beberapa jenis tuna seperti tuna sirip kuning maupun biru dan juga berbobot besar.

( berbagai sumber )

Senin, 13 Februari 2012

Teknik Mancing Ikan Nila


Umpan yang banyak digunakan para pemancing untuk memancing ikan nila adalah lumut. Lumut sawah atau lumut kolam yang halus sangat disukai oleh ikan nila. Untuk lebih mempermudah memancing ikan ini agar memakan umpan, biasanya para pemancing menaburkan umpan di tempat yang di perkiarakan terdapat ikan disitu. Taburan umpan ini bertujuan untuk menarik perhatian ikan nila agar berkumpul. Kita dapat menggunakan dedak/ bekatul, pelet, atau lumut itu sendiri untuk menarik perhatian ikan. Setelah ikan terlihat berkumpul, barulah kita mulai memancing.






Jenis pancing yang biasa digunakan adalah pancing berpelampung, dengan ukuran tali 2-15 lbs dan mata kail nomor 6-10. Umpan memancing ikan nila di danau atau waduk biasanya lumut hijau halus yang dililitkan pada mata pancing. Para pemancing juga sering menggunakan daging buah sawit tua yang dirajang kecil-kecil. Bisa juga menggunakan umpan cacing, udang, campuran minyak udang, juga serangga seperti kecoa dan laron. Untuk ikan nila yang dipelihara di kolam biasa dipancing dengan umpan pellet. Kadang-kadang ikan nila juga mau menyambar umpan pancing tiruan (lure) dengan cara casting.


Posisi mata kail untuk memancing ikan nila biasanya berada sedikit dibawah permukaan air atau di tengah-tengah kedalaman. Karena ikan nila seringnya berada di tengah-tengah perairan, ketika memakan umpan yang kita taburkan tadi otomatis ikan akan muncul ke permukaan, sehingga posisi mata kail tidak perlu dalam-dalam.

Kamis, 09 Februari 2012

Cara Memancing Ikan Wader


Ikan wader merupakan ikan yang banyak di konsumsi oleh penduduk lokal. Ikan yang mempunyai panjang rata-rata 4-13 cm dan berat antara 200-300 g dapat kita temukan di sungai, sawah, danau, rawa yang berair bening.


Ikan wader adalah jenis ikan air tawar yang paling gampang ditemukan di kolam-kolam dan waduk ataupun sungai yang airnya jernih. Ikan ini memiliki kekhasan yakni adanya dua bintik yang terdapat dibawah badannya. Ikan wader termasuk dalam suku Cyprinidae dan terdapat di perairan tawar di seluruh nusantara dan dalam bahasa Inggris diberi nama spotted barb. Ikan ini memiliki ukuran kecil sebesar jari kelingking dan yang paling besar bisa mencapai ukuran 2 jari manusia.

Ikan wader di alam liar memakan semua makanan yang ada di alam alias omnivora. Ia makan berbagai jenis makanan seperti telur ikan lain, lumut dan berbagai jenis serangga air. Ikan ini termasuk ikan yang rakus bahkan besifat karnivora karena ia juga makan telur ikan wader lainnya yang ada di perairan.

Memancing ikan wader merupakan hal yang cukup menyenangkan karena ikan ini gampang berkembang biak di sungai atau selokan kecil sehingga hampir semua tempat dapat ditemukan jenis ikan wader. Cara memancingnya adalah dengan menggunakan mata pancing yang berukuran kecil sekali. Pakan yang berupa pelet yang sudah direndam di bentuk kecil sebesar butiran nasi dan dipasang pada mata pancing. Pemberian mata pancing dan umpannya yang kecil akan membuat ikan wader akan lebih mudah menyambar pakan tersebut.

Ikan wader termasuk jenis ikan yang menyambar saat memakan umpannya, karenanya dibutuhkan ketepatan dan kecepatan saat menarik joran pancing sebelum umpan terlepas dari mata pancingnya. Rangkaian mata pancingnya pun bisa disusun dengan menggunakan pelampung maupun tidak. Penggunaan pelampung memang ditujukan sebagai indikator saat umpan disambar ikan, semakin cepat anda menarik joran anda, maka semakin kecil kemungkinan ikan lolos.
 
Ikan wader di Indonesia hanya digunakan sebagai ikan konsumsi alias dimakan, namun di negara eropa jenis ikan ini dipelihara sebagai ikan hias karena memiliki warna keperakan yang indah, dan beberapa jenis lain dari wader juga memiliki warna kehijauan sehingga lebih indah saat dipelihara di aquarium. Jenis lain dari ikan wader dapat berwarna merah dan kuning keperakan, namun semua memiliki ciri yang sama yaitu adanya bintik hitam di bagian bawah tubuhnya.

(Pemancing.com)

Cara Memancing Dekat Permukaan




Zona Ikan Kita - Salah satu teknik mancing yang sangat sulit di kuasai ialah memancing di dekat permukaan laut. karena teknik ini butuh kerja sama antara pemancing serta nahkoda kapal. hal-hal yang lain juga perlu di perhatikan. seperti halnya...


a. Penentuan lokasi

Lokasi pemancingan di dekat permukaan agak sulit ditentukan. Untuk keperluan ini ada beberapa cara yang dapat di tempuh. Di samping meminta bantuan nelayan setempat, perlu juga diketahui kejadian-kejadian di laut sebagai pertanda adanya gerombolan ikan. Adanya gerombolan ikan ditandai dengan perubahan warna air, bentuk air yang beriak atau berbuih, adanya ikan-ikan yang saling berlompatan ke atas, dan banyak burung camar yang menukik-nukik di permukaan laut. Dengan tanda-tanda seperti itu dapat dipastikan perairan tersebut banyak ikannya.

Lokasi pemancingan di dekat permukaan bisa juga terdapat di perairan dalam yang mempunyai dasar karang. Ada tidaknya karang bisa diketahui dengan melihat peta laut atau berdasarkan petunjuk nelayan setempat. Di perairan seperti ini biasanya terdapat berbagai macam organisme yang menjadi makanan ikan.

Jenis ikan pelagis (permukaan) seperti tuna, cakalang, lemadang, barakuda, kembung dan marlin mudah tertarik pada benda-benda yang terapung di laut. Kejadian seperti ini sering kali dimanfaatkan oleh nelayan dalam menentukan lokasi penangkapan. Mereka sering melakukan penangkapan ikan di sekitar benda-benda terapung tersebut. Dengan dasar seperti itu, dibuatlah tipuan dengan memasang benda yang menetap di laut. Benda mengapung yang sengaja dipasang untuk mengumpulkan ikan ini dinamakan rumpon.

b. Kapal untuk pancing tonda

Kapal yang didesain untuk memancing ikan dengan tonda (trolling) biasanya berbentuk agak ramping. Dengan bentuk seperti ini gerakan kapal menjadi lebih lincah. Selain itu, kapal juga dilengkapi dengan mesin-mesin kecepatan tinggi, bahkan kadang-kadang ada yang menggunakan mesin ganda. Keberhasilan memancing dengan tonda memang sangat dipengaruhi oleh laju kapal yang digunakan. Untuk keberhasilan menonda sebaiknya menggunakan kapal dengan kecepatan antara 10-12 knot.

Bagian belakang kapal (burutan) sebaiknya dibuat agak lebar agar pemancing lebih leluasa dan lebih mudah menaikan ikan ke atas kapal. Jika pemancing menggunakan lebih dari satu unit pancing, biasanya kapal diberi tambahan beberapa palang yang terbuat dari kayu atau fiberglas. Palang-palang ini dinamakan out rigger dan dipasang pada bagian kiri dan kanan lambung kapal yang menjorok keluar atau pada bagian belakang kapal. Pada ujung kapal diberi cincin penyalur sebagai tempat pemasukan tali pancing yang berasal dari joran. Dengan adanya palang ini, kita dapat menggunakan beberapa unit pancing tonda dalam satu kapal tanpa khawatir terjadinya tali kusut atau penyangkutan satu sama lain.

Dengan menggunakan pancing tonda, ikan yang tertangkap umumnya berukuran besar seperti ikan tuna, tenggiri, lemadang, layaran atau marlin. Karena besar dan kuatnya ikan yang tertangkap, ada kemungkinan pemancing terbawa oleh gerakan ikan dan bisa terjebur ke laut. Oleh karena itu, demi keselamatan pemancing, ada tipe kapal untuk pancing tonda yang dilengkapi dengan tempat duduk pengaman. Tempat duduk ini bisa dipasang secara permanen di atas kapal dan dilengkapi dengan sabuk pengaman.

c. Pancing dan umpan


Memacing dekat permukaan sering dilakukan dengan pancing tonda (trolling). Pancing yang digunakan untuk menonda dapat dilengkapi dengan joran atau tanpa joran. Namun, demi keamanan dan kenyamanan si pemancing lebih baik menggunakan joran. Pancing tanpa joran biasanya talinya sulit ditarik saat mata pancing dimakan ikan. Apalagi bila ikan yang didapat berukuran cukup besar.

Ikan yang baru terkait mata pancing biasanya mempunyai tenaga melawan yang luar biasa. Jika pemancing tidak mampu menarik atau bertarung dengan tenaga ikan, tidak jarang tali langsung dilepas bersama dengan ikan yang sedang kesakitan. Jika pemancing tetap mempertahankan tali, bisa jadi tangan pemancing kesakitan karena tergores oleh tali yang ditarik ikan. Akhirnya, bukan ikan yang didapat melainkan jari tangan yang terluka.

Dengan joran yang dilengkapi dengan gulungan, pemancing dapat memancing lebih aman dan nyaman. Memang, tidak sembarangan joran dapat digunakan untuk menonda. Pilihlah joran yang mempunyai kelenturan dan kekuatan yang bagus. Bahan joran yang bagus terbuat dari fiberglass. Untuk pancing tonda, kurang nyaman kalau memakai joran yang terlalu panjang. Ukuran yang ideal antara 1-1,5 m.

Gulungan tali yang bagus biasanya mampu memuat ratusan meter tali dan bisa berbunyi saat tali ditarik ikan. Tali yang dipergunakan terbuat dari nylon monofilamen (senar) dengan ukuran yang disesuaikan dengan berat ikan yang menjadi sasaran. Karena pancing tonada umumnya ditujukan pada jenis ikan pelagis yang berukuran beasr, maka diperlukan mata pancing yang berukuran agak besar, nomor 5-7.

Pancing tonda biasanya menggunakan umpan sungguhan atau tiruan. Meskipun demikian kebanyakan pemancing menggunakan umpan tiruan yang berbentuk cumi-cumi atau ikan. Bahkan, ada yang menggunakan tali rafia atau plastik yang dirumbai-rumbai. Untuk umpan sungguhan, biasanya menggunakan ikan kembung atau ikan layang berukuran kecil yang telah mati.


d. Cara memancing

Memancing dengan tonda sebaiknya dilakukan siang hari karena kita menggunakan umpan tiruan untuk mengelabuhi penglihatan ikan. Kegiatan ini dimulai dengan mempersiapkan pancing yang terdiri dari joran, gulungan, tali pancing, mata pancing dan umpan. Keadaan mata pancing perlu diperhatikan apakah masih tajam atau tidak. Apabila sudah tumpul, mata pancing perlu ditajamkan dengan alat pengasah, seperti pengasah pisau atau gerinda batu.

Bagi pemancing tonda yang sudah berpengalaman, kegiatan ini dimulai dari pengaturan tali pada gulungan. Gulungan dilengkapi dengan alat pengatur ketegangan yang memiliki tuas dengan skala yang dapat diatur sesuai kehendak pemancing. Dalam skala tersebut tertera angka yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk menentukan ketegangan tali pancing.

Kekuatan tali (breaking streang) bisa diukur dengan menggunakan timbangan pegas. Cara pengukurannya dapat dilakukan oleh dua orang. Satu orang memegang joran, sedang yang lain menarik tali yang telah digantungi timbangan pegas. Pengukuran ini sangat penting, apabila kita salah menyetel gulungan akibatnya tali mudah putus jika ditarik ikan.

Setelah tali dipasang pada joran, mata pancing yang telah dilengkapi dengan umpan bisa disambungkan pada tali senar. Antara tali senar dan mata pancing umumnya menggunakan tali wire dari monel atau bisa juga tali senar yang berukuran besar. Hal ini untuk menghindari tali putus akibat gigitan ikan yang bergigi tajam. Panjang tali monel ini antara 1-1,5 m yang dipasang langsung pada mata pancing. Pancing tonda dapat menggunakan umpan tiruan atau sungguhan, namun yang sering dipakai adalah umpan tiruan, baik yang menyerupai ikan atau cumi-cumi. Dengan umpan tiruan ini, setiap umpan dapat digantungi lebih dari satu mata pancing.

Pancing yang telah dirangkai dalam satu unit siap untuk dioperasikan di laut. Dengan kecepatan kapal yang tidak terlalu tinggi, antara 3-4 knot, pancing diturunkan berlahan-lahan. Panjang tali pancing yang tepat untuk menonda tergantung pada kecepatan kapal. Dengan kecepatan normal, antara 10-12 knot, panjang tali yang sesuai adalah 20-25 m. Meskipun demikian, ini bukan ketentuan yang baku. Sebagai patokannya adalah bila umpan kelihatan melayang di permukaan laut saat tali ditarik oleh kapal. Dalam hal ini dituntut kejelian pemancing atau nakhoda kapal dalam memperhatikan gerakan umpan tersebut. Ikan-ikan pelagis yang menjadi sasaran lebih tertarik pada benda yang bergerak atau berenang menyerupai ikan atau cumi-cumi hidup.

Apabila tali pancing telah diulur (di area) dan umpan sudah bisa melayang-layang di permukaan, maka tuas yang ada pada gulungan tali bisa dikunci dengan cara menyetel tuas pada posisi ½ nya. Dengan cara seperti ini apabila mata pancing disambar ikan, tali pada gulungan akan mengulur dengan cepat sehingga menimbulkan bunyi “wee..k” menyerupai bunyi bel. Ini menandakan bahwa ada ikan yang terkait pada mata pancing sehingga perlu segera dilakukan penarikan.

Setelah penurunan pancing beserta talinya dianggap beres dan tepat, joran dapat diletakan pada tempat joran, bagi kapal yang dilengkapi tempat joran (road holder). Bagi kapal yang tidak mempunyai tempat joran, maka pemancing harus memegang joran tersebut. Khususnya pancing tonda yang tidak menggunakan joran, tali pancing bisa diikatkan pada bagian belakang (buritan) kapal.

Dalam satu kapal kadang-kadang menggunakan lebih dari satu joran untuk menonda, bahkan ada yang menggunakan enam joran sekaligus. Ini tentunya membutuhkan out rigger agar tali pancing bisa memencar, tidak saling bersangkutan. Cara pemasangan tali dan mata pancing pada joran sama dengan pancing yang pertama. Hanya saja, disini kebutuhan tali pancingnya berbeda antara joran yang dipasang di luar dengan yang di dalam. Joran yang dipasang di luar membutuhkan tali yang lebih panjang.
Jika joran semua telah terpasang pada tempatnya, kapal dapat bergerak dengan kecepatan antara 10-12 knot. Laju kapal diusahakan stabil sehingga umpan akan bergerak sesuai dengan yang diharapkan. Apabila kecepatan kapal dinaikan, ada kemungkinan umpan akan terbang. Sebaliknya jika kapal dilambatkan, umpan akan tenggelam ke dalam air. Dalam hal ini kemahiran Nakhoda megendalikan kapal sangat diperlukan.
Untuk membuat umpan lebih aktif, bisa melayang dipermukaan air, kapal dapat dijalankan dengan gerakan zig-zag (berjalan tidak lurus). Dengan cara seperti ini gerakan permukaan air akan lebih banyak sehingga umpan kelihatan lebih aktif dan akhirnya mampu menarik perhatian ikan pelagis. Perlu juga diketahui bahwa kebanyakan ikan pelagis mudah tertarik pada permukaan air laut yang bergerak seperti bekas permukaan yang telah dilewati oleh kapal. Oleh karena itu sering kita jumpai ikan lumba-lumba, cakalang, tuna dan marlin mengikuti kapal yang sedang berlayar di laut.

e. Teknik menghajar ikan

Untuk pancing yang menggunakan gulungan, termakannya umpan oleh ikan ditandai oleh bunyi uluran tali yang menyerupai bel, sedangkan untuk pancing yang dipegang terasa ada sentakan dari dalam air. Kejadian ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pemancing. Dengan adanya tarikan ini, pemancing secara spontan berteriak pada Nakhoda untuk menaikan kecepatan kapal. Hal ini dilakukan agar ikan yang memakan umpan cepat tersangkut pada mata pancing. Jika kecepatan kapal tidak dinaikan, ada kemungkinan ikan melepaskan kembali umpan yang telah masuk ke mulutnya. Bila Nakhoda yakin bahwa ikan telah tersangkut pada mata pancing, kecepatan kapal segera diturunkan sampai lebih pelan dari kecepatan normal menonda. Dalam keadaan seperti ini tetap diperlukan keahlian Nakhoda, jika Nakhoda tidak pintar dalam mengendalikan kapal, ada kemungkinan ikan terlepas kembali.

Setelah kapal berjalan pelan atau berhenti, penarikan tali pancing bisa dimulai, ini dinamakan fighting time. Pemancing profesional biasanya menggunakan sabuk yang telah dilengkapi dengan tempat joran untuk menarik tali pancing. Joran diambil dari rod holder, kemudian dipegang oleh pemancing dengan cara meletakan bagian bawah joran pada sabuk yang telah dilengkapi dengan lubang tempat joran. Tali pancing kemudian digulung perlahan-lahan dengan memutar alat putar yang terdapat pada gulungan.

Irama menggulung tali harus disesuaikan dengan gerakan ikan. Apabila ikan kelihatan melawan, tali harus dihentikan. Sebaliknya bila ikan kelihatan kelelahan, tali harus segera digulung. Demikian seterusnya hingga ikan mendekati kapal. Teknik menggulung tali ditentukan oleh keahlian si pemancing dan dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Apabila si pemancing ceroboh dan tidak sabar ada kemungkinan ikan lepas atau tali putus.

Bagi pemancing yang benar-benar lihai dalam hal tarik ulur dengan ikan, mungkin dalam waktu yang singkat ikan sudah dapat dinaikan ke kapal. Bahkan, mereka juga bisa menangkap ikan yang berukuran besar dengan menggunakan tali yang berukuran relatif lebih kecil. Kelihaian ini pada lomba memancing bisa memperoleh nilai tambah pada kriteria penilaian.

Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan penarikan ikan, baik dengan joran atau tanpa joran, adalah kapal harus dalam posisi tidak berjalan. Bila kapal bergerak maju, maka akan terjadi tarik menarik antara si pemancing dengan ikan. Akibatnya tarikan menjadi berat yang kadang-kadang bisa membuat tali putus. Bagi pemancing yang tidak menggunakan joran, penarikan harus di lakukan dengan hati-hati. Apabila ikan yang terkait cukup besar jangan di paksakan untuk menariknya saat ikan masih melawan. Tunggu dulu sampai ikanbenar-benar lemas. Jika dipaksakan menarik tali,jari tangan bisa terluka akibat gesekan senar. Oleh karena itu, jika tidak menggunakan joran, pemancingan disarankan memakai sarung tangan.

Ikan yang sudah kelihatan lemas akibat tarik ulur dengan pemancing, perlahan-lahan akan mendekat ke kapal mengikuti tarikan tali pancing. Meskipun demikian, kadang-kadang ada ikan yang masih memiliki tenaga kuat walaupun sudah mendekati kapal. Ikan marlin dan layaran, misalnya, biasanya masih melawan meskipun sudah berada beberapa meter di belakang kapal. Oleh karena itu, sering kita jumpai pemandangan yang mengasyikan di mana seekor ikan marlin atau layaran melompat keatas permukaan laut (jumping) pada saat di tarik mendekati kapal.

Ikan yang sudah dekat dengan kapal harus ditarik dan di arahkan pada posisi sebelah kiri atau kanan kapal. Maksudnya untuk memudahkan menaikan ikan ke atas dek kapal. Dengan bantuan ganco yang cukup tajam, ikan di kaitkan pada mata ganco, bisa pada tubuhnya atau punggung nya. Untuk ikan yang berukuran besar, lebih baik menggunakan dua ganco.

Bila posisi ganco sudah benar-benar kuat, secara perlahan-lahan ikan dapat dinaikan ke atas kapal. Ganco ini tidak di perlukan bila yang tertangkap ikan kecil. Serok yang terbuat dari jaring dan bertangkaisudah bisa di gunakan untuk mengangkat ikan kecil.

f. Penanganan hasil pancingan

Jenis ikan tertentu yang mempunyai kebiasaan berenang cepat seperti tuna, cakalang, marlin atau layaran meskipun sudah berada di atas dek kapal seringkali masih bergerak cukup kuat. Bahkan, kadang-kadang bisa melompat tinggi. Kalau tidak hati-hati, ikan tangkapan ini bisa melompat lagi ke laut. Untuk hal seperti ini, ikan yang masih hidup ini perlu di matikan terlebih dahulu sebelum mata pancing yangmasih terkait tercopot. Sesudah mati, ikan tersebut langsung disimpan di tempat penyimpanan ikan (palka), bagi kapal yang mempunyai palka, atau ke dalam kotak dingin yang berisi es.

Bagi pemancing yang perjalananya lebih dari satu hari, penyimpanan seperti ini dapat memperlambat proses pembusukan. Setelah pekerjaan menangani ikan selesai, mulailah persiapan untuk memancing berikutnya. Biasanya pemancing menurunkan pancing tidak jauh dari lokasi sebelumnya.

(www.stp.kkp.go.id)

Kamis, 02 Februari 2012

Trolling Tuna


Ikan tuna adalah ikan yang merupakan jenis predator bagi ikan–ikan kecil serta cumi–cumi, meski demikian ikan tuna juga memiliki musuh utama yakni ikan hiu. Boleh dibilang ikan ini meskipun disebut sebagai ikan predator, namun ia juga dijadikan mangsa oleh ikan lain. Selain juga adalah penangkapan oleh manusia sebagai komoditi pangan. Tercatat hampir semua negara yang memiliki pelabuhan perikanan akan menangkap ikan tuna ini sebagai komoditi terbaik.


Tuna merupakan salah satu jenis ikan yang berkelompok dan selalu berenang secara bersamaan dengan memiliki bobot ikan yang bervariasi. Memperoleh hasil tangkapan tuna inilah yang dapat membuat para mania mencoba mencari sensasi tersendiri. Bagi para mania mancing kawakan, memancing tuna dengan teknik trolling ternyata masih dapat menghasilkan tangkapan yang kali ini akan diuraikan beberapa trik mancing tuna dengan teknik trolling.

Teknik mancing trolling dengan menggunakan umpan buatan/ lure trolling, dimana suatu teknik memancing dengan cara membentangkan umpan buatan di ujung tali senar yang ditarik dengan perahu berjalan dimaksudkan demi menarik perhatian ikan sasaran dengan kecepatan berjalan perahu yang konstan pada 7-10 knot.

Beberapa corak warna yang bisa digunakan pada lure/ umpan buatan pilihan para mania, seperti warna hijau gelap, hitam, ungu, kuning, merah dan hot pink/ merah muda. Penggunaan umpan lure ini dengan cara mengkombinasikan warna-warna umpan tersebut demi mencari ikan sasaran.

Teknik lainnya yang juga dapat digunakan dengan menggunakan teknik trolling adalah dengan cara menggunakan umpan hidup/ live bait dan juga menggunakan umpan mati/ death lure. Dengan mengkombinasikan dua jenis umpan ini pun juga dapat memberikan respon positif dengan hasil yang baik.

Umpan hidup dan juga umpan mati yang digunakan seperti ikan ekor kuning serta meckarel ternyata cukup handal menarik perhatian tuna yang cara penggunaannya adalah dengan teknik trolling sejauh 40-50 meter dan mengapungkannya dalam 2 (dua) ujung tali senar serta posisikan umpan di kedalaman 8-10 meter di bawah permukaan air.

Memancing tuna dengan menggunakan teknik trolling ternyata memiliki sensasi tersendiri bagi para mania yang berburu jenis ikan tersebut yang dikarenakan tuna memiliki tenaga yang dahsyat saat bertarung terlebih dengan beberapa jenis tuna seperti tuna sirip kuning maupun biru dan juga berbobot besar.

(Berbagai Sumber)

Teknik Mancing Trolling


Trolling merupakan teknik mancing permukaan, targetnya adalah ikan yang sering berada dipermukaan air laut  seperti, ikan tuna,cakalang, lemadang dan marlin. Karena ikan-ikan tersebut memiliki kebiasaan untuk memakan  mangsanya yaitu sekumpulan ikan yang berada permukaan air.



PERALATAN TROLLING

1.  Reel Trolling
untuk memancing dengan teknik trolling memang membutuhkan reel yang khusus. Gunakan reel yang di lengkapi dengan Level Drag dan double speed.

2.  Joran
Untuk joran, pilih joran yang dilengkapi dengan Roller hal ini bertujuan agar senar tidak ter gencet / menjadi pipih disaat mendapatkan tekanan besar serta tidak mudah panas disaat Long Fight.

3.  Senar
Senar monofilament dengan ukuran 50-80lbs

4. Shockleader
ukuran shockleader biasanya dua kali ukuran mainline. Jika menggunakan senar ukuran 50lbs maka shockleader yang digunakan 100lbs

5.  Barrel Swivel, Split Ring dan Sleve

6. Serat Kabel Baja / wire
Digunakan untuk menyambung senar dengan mata pancing. Selain itu berguna untuk melindungi senar dari gigi ikan yang tajam. Panjangnya kira-kira 1 – 1.5m. Untuk umpan yang menggunakan konahead dan umpan alami biasanya tidak memakai wire karena untuk memaksimalkan kerja umpan tersebut.

7.  Umpan
Ada dua alternatif untuk memilih umpan trolling, bisa dengan umpan alami ataupun umpan buatan. Untuk umpan buatan gunakan umpan yang berwarna terang, mengkilat dan kuat. Biasanya umpan buatan terbuat dari logam atau metal. Keuntungan menggunakan umpan buatan adalah tidak mudah hancur saat terkena ombak . Umpan buatan yang biasa digunakan diantaranya; Rapala, Konahead Sedangkan untuk umpan alami ikan yang digunakan adalah ikan bandeng karena memiliki warna yang terang sehingga dapat menarik perhatian ikan target.

8.  Mata Pancing
jika menggunakan umpan alami mata pancing mutlak diperlukan. Gunakan mata pancing nomor 5 – 7, karena pada umumnya target pemancingan trolling adalah ikan besar, jadi mata pancing yang dipakai juga harus sesuai. Sedangkan jika memakai umpan buatan biasanya sudah terdapat mata pancing yang sesuai ukuran umpannya.

9.  Kapal
untuk yang ini tidak bisa dilupakan perannya sangat vital sekali.

TROLLING ACTION
Banyak faktor yang menentukan sukses atau tidaknya mancing dengan teknik trolling diantaranya: Intensitas cahaya matahari, Jernih atau tidaknya kondisi air laut sehingga pemilihan warna dan jenis umpan juga harus disesuaikan. Perpaduan skill pemancing dan kapten kapal juga sangat menentukan kesuksesan. Pengaturan kecepatan kapal saat menarik perhatian ikan pemangsa, sehingga umpan keliatan dipermukaan air sampai pada waktu sang pemancing fight dengan ikan sasaran.

(Berbagai Sumber)

Cara Merilis Ikan


Zona Ikan Kita – Pada saat memancing kita sedang menggunakan barang – barang yang berbahaya bagi kelangsungan hidup ikan dan hewan air lainya. Oleh karena itu kita harus menggunakannya dengan bijak dan berhati – hati agar kelangsungan hidup ikan dan hewan air lain tetap terjaga kelestariannya. Terutama bagi anda pemancing di sungai atau tempat – tempat alami lainya, sehingga kelak anak cucu kita masih bisa merasakan sensasi mancing ikan di alam liar.



Segerakan untuk menyudahi perlawanan ikan

Hal yang paling mengasyikkan bagi para pemancing adalah ketika umpan disambar ikan dan bertarung dengan ikan itu untuk membawanya ke daratan. Namun hendaknya kita tidak berlama – lama bertarung dengan ikan, sehingga ikan tersebut dapat kembali sehta ketika kit merilisnya kembali ke alam bebas.

Lepas kail dengan hati – hati

Untuk menjaga ikan tetap hidup tentunya kita harus berhati – hati melepas kail yang tersangkut di mulut ikan agar tidak terluka terlalu parah. Sehingga masih ada kemungkinan ikan itu hidup ketika kita rilis kembali ke alam. Jika kail terlalu dalam termakan dan susah untuk di lepas, akan lebih baik jika kita memotongnya daripada harus memaksa melepas, yang justru akan melukai lebih parah ikan tersebut.

Siapkan kain basah

Pada saat ikan suda terangkat, pastikan kita memegang ikan tersebut dengan kain yang telah kita basahi. Tujuannya adalah menjaga kulit ikan agar tetap lembab dan lendir ikan tidak hilang. Jika lendir ikan itu hilang maka ikan tersebut akan rentan terhadap penyakit dan bakteri lainya.

Bantu ikan bernafas kembali

Pada saat akan merilis ikan ke dalam air jangan langsung di lepas, karena ikan masih stress dan lemas. Tenaga ikan tersebut telah terkuras habis pada saat melakukan perlawanan dengan pemancing. Selain itu, ikan tersebut juga akan lemas karena terlalu banyak kehilangan oksigen pada saat berada di daratan untuk dilepas dari kail dan kadang untuk sesi foto.

Sumber : sportfishingmag.com

Selasa, 31 Januari 2012

Jenis dan Karakter Cumi


Memancing cumi memang memiliki keasyikkan tersendiri dibanding dengan yang lain, karena tentunya perlawanan pada saat mancing cumi berbeda dengan mancing ikan. Teknik yang biasa digunakan untuk mancing cumi adalah casting dengan menggunakan capela/udang-udangan atau bisa juga menggunakan umpan alami seperti ikan rinyau, tembang, selar ataupun udang.


Mengenal karakter target yang akan kita pancing, habitat tempat hidup dan kebiasaan makannya adalah mutlak diperlukan jika kita ingin sukses dalam memancing target yang kita cari. Berikut ini sedikit gambaran tentang mancing cumi/sotong.

1. Cumi/Sotong Karang (Semampar)

- Habitat : Dasar laut (paling banyak) dan pertengahan air, kadang-kadang naik ke permukaan untuk berburu ikan atau udang yang menjadi makanannya
- Karakter : Perlawanannya jika terpancing merupakan yang paling kuat diantara jenis yang lain, kadang terus melawan sampai saat akan diangkat dari permukaan air. Umumnya merupakan target utama pemancing cumi mengingat perlawanannya yang tidak gampang menyerah
- Ukuran : Rata-rata yang biasa terpancing berukuran kurang dari 1 kg. Ukuran besarnya bisa mencapai 1.5 – 3 kg lebih tapi biasanya jarang, hanya pada musim-musim atau periode tertentu saja.
- Umpan : Segala jenis umpan alami yang biasa digunakan (udang, ikan kecil dan lain-lain) dan capela/udang – udangan
- Teknik : Dicasting menggunakan umpan alami+tusukan cumi dan biarkan tenggelam sampai dasar lalu tarik pelan-pelan sampai umpan dimakan. Jika menggunakan capela/udang-udangan, paling efektif dengan teknik yang agak interaktif (twitch & dart, single/double/triple stroke dan lain-lain) selain teknik standar/dasar (regular/continue retrieve) .

2. Cumi/Sotong Jarum

- Habitat : Permukaan (paling banyak) dan pertengahan air, jarang terdapat di dasar laut
- Karakter : Dengan ukuran yang sebanding/sama dengan cumi karang perlawanannya hanya kuat saat awalnya saja, setelah itu cenderung pasrah seiring dengan gulungan senar oleh pemancing. Perlawanan baru terasa kuat untuk ukuran panjang badan 20 cm keatas, itupun biasanya saat awal-awal saja. Merupakan umpan yang baik & umum digunakan untuk memancing ikan (dasaran/ngoncer)
- Ukuran : Rata-rata yang biasa terpancing berukuran kurang dari 0.5 kg / panjang kurang dari 30 cm. Untuk ukuran super diatas 30 cm biasanya terdapat di tengah laut dan paling banyak jika sudah masuk musimnya. Ukuran monster dengan berat diatas 3 kg biasanya sudah masuk kategori jenis Humbolt (cumi raksasa), banyak terdapat di perairan luar negeri
- Umpan : Paling efektif dengan menggunakan umpan alami (ikan tembang/selar/platah/rinyau maupun udang) dengan tusukan cumi/stem/baited jig. Beberapa ada juga yang tertarik dan terpancing dengan menggunakan capela/udang-udangan.
- Teknik : Dicasting menggunakan umpan alami+tusukan cumi. Jika menggunakan capela/udang-udangan, biasanya dengan memainkannya di area pertengahan sampai permukaan air, paling efektif dengan menggunakan teknik twitch & dart (zig-zag)

3. Cumi/Sotong Batu (Tempurung)

- Habitat : Dasar laut, kadang naik ke pertengahan & permukaan air untuk mencari umpan tapi jarang sekali.
- Karakter : Dengan ukuran yang sebanding/sama dengan cumi jenis lain perlawanannya termasuk yang paling lemah, hanya berat badannya saja yang membuat tarikannya jadi agak sedikit menghibur. Memiliki tempurung di badan/punggungnya yang keras seperti batu, biasanya tempurung yang sudah kering digunakan sebagai makanan alternatif/protein bagi burung perkutut
- Ukuran : Rata-rata ukuran yang terpancing bisa mencapai berat 1 kg-an termasuk dengan berat tempurungnya. Untuk yang berukuran super 3 kg-an keatas lebih banyak diperoleh dengan cara diselam/tombak oleh nelayan, jarang yang terpancing dengan menggunakan umpan baik alami maupun capela
- Umpan : Dengan umpan alami & capela/udang-udangan
- Teknik : Dicasting menggunakan umpan alami+tusukan cumi dan biarkan tenggelam sampai dasar lalu tarik pelan-pelan sampai umpan dimakan. Jika menggunakan capela/udang-udangan, teknik single/twin/triple stroke lebih efektif untuk memikatnya karena gerakan capela yang turun-naik di dasar laut mengikuti gerakan lamban cumi batu dalam mengejar umpan .

4. Gurita (Octopus)

- Habitat : Biasanya terdapat di dasar laut
- Karakter : Hampir sama dengan cumi batu, hanya berat badannya saja yang membuat tarikan menjadi lebih terasa, perlawanannya hampir tidak ada. Masih lebih baik cumi batu karena masih ada sedikit perlawanan. Merupakan salah satu umpan terbaik untuk mancing dengan teknik dasaran karena dagingnya yang alot. Cukup sulit untuk penanganan setelah terpancing karena tentakelnya yang menjulur kemana-mana dan bisa mencengkeram erat setiap benda yang terpegang
- Ukuran : Rata-rata ukuran yang terpancing bisa mencapai berat 1 kg-an. Untuk yang berukuran super biasanya banyak terdapat di perairan laut dalam
- Umpan : Dengan umpan alami & capela/udang-udangan
- Teknik : Dicasting menggunakan umpan alami+tusukan cumi dan biarkan tenggelam sampai dasar lalu tarik pelan-pelan sampai umpan dimakan. Jika menggunakan capela/udang-udangan, teknik single/twin/triple stroke serta teknik twitch & dart di dasar dengan 3-5 kali retrieve cukup efektif untuk memikatnya.

Sumber : IFT FISHING FORUM.com/Ichang

Jumat, 27 Januari 2012

Cara Mancing Kepiting

Zona Ikan Kita - Bagi sebagian orang kegemaran memancing kepiting adalah suatu hal yang asing. Tapi tahukah teman-teman ternyata memancing kepiting ini tidak kalah jauh asiknya dengan memancing ikan. Walaupun hasil yang didapat hanya sebatas hewan kecil berkaki delapan yang berjalan menyamping namun sensasinya tak kalah nikmat dengan memancing ikan.


Berikut tips dan trik yang mungkin berguna untuk teman-teman yang ingin memancing kepiting.

Umpan
Umpan yang sering digunakan untuk memancing kepiting di empang adalah belut atau ikan kecil. Umpan tersebut harus dipotong dengan ukuran 2 - 3 cm.

Line (kenur)
 
Tak jauh berbeda dengan memancing ikan, dalam memancing kepiting line yang digunakan adalah senar dengan ukuran yang tak terlalu tebal. Namun, untuk penghematan teman-teman juga dapat menggunakan tali.

Joran
Joran sederhana yang terbuat dari bambu dapat digunakan untuk memancing kepiting. Panjangnya sekitar 1,5 - 2 meter.

Kail
Teman-teman dapat menggunakan kail yang sama untuk memancing ikan dengan ukuran yang sangat kecil.

Karakter Memakan Umpan 
Karakter makan kepiting berbeda dengan ikan, umpan hanya dicapit lalu diambil dikit demi sedikit dengan capit satunya untuk dimakan. Ketika senar terasa dimakan tariklah dengan perlahan karena kalau tidak kail akan terlepas dari mulut kepiting. 

Cara Memancing Belut Sawah

Zona Ikan Kita - Mungkin teman-teman yang dulunya pernah tinggal di daerah pedesaan dengan keindahan sawahnya tentu pernah atau lihat orang memancing belut di sawah. Mau tahu tips memancing belut seperti apa, berikut penjelasannya.

1. Pembuatan Pancingan
Carilah senar pancing berbahan senar monofilamen (monofilament line). Senar ini adalah senar pancing yang menggunakan serat tunggal atau mono. Senar pancing ini merupakan senar yang paling murah yang dijual di pasaran. Carilah ukuran yang sedang, jangan terlalu besar atau terlalu kecil.
Memilin Senar
Proses Pembuatannya :

• Pertama potong senar pancing kira-kira panjangnya 3 meter.


• Lalu kita pilin-pilin senar dengan cara memulai dari titik tengah 1.5 meter. Biasanya orang-orang menggunakan bantuan paha kaki untuk alas memilinnya. Hati-hati bagi yang punya rambut paha panjang bisa menimbulkan kesakitan yang luar biasa akibat ikut terpilinnya rambut anda.


 
Mata Kail dari Ban Bekas

Setelah memilin senar, langkah selanjutnya adalah mengaitkan senar dengan mata kail. Nah, berbicara tentang mata kail, biar lebih hemat, mata kail dapat teman-teman peroleh dari ban bekas.


• Pertama sayat bagian pinggir dari ban bekas tersebut lalu keluarkan kawat yang ada di dalam ban bekas tersebut.

• Lalu pilih bagian kawat yang tidak karatan kemudian potong kawat tersebut seukuran kira-kira 4 cm.




• Pilih bagian kawat yang tidak karatan kemudian potong kawat tersebut seukuran kira-kira 4 cm.


• Asah/raut kawat tersebut sehingga runcing di ujung trus bengkokan sehingga menjadi mata kail

Setelah, mata kail terbentuk, selanjutkan memasuki proses pengasahan. Hal itu dapat dilakukan dengan mengasahnya pada alat asah.
• Setelah itu masukan senar pancing yang telah kita buat kedalam mata kail tersebut

• Langkah selanjutnya, masukan senar pancing yang telah kita buat kedalam mata kail tersebut. Selesailah proses pembuatan pancingan.
Mengasah Mata Kai


2. Umpan Pancing.
 
Umpan memancing belut yang paling sering digunakan adalah cacing tanah, katak atau keong yang sudah di ambil dagingnya. Bagi yang jijik, ya apa boleh buat berarti anda belum bisa memancing belut hari ini.
Daun pisangnya yang berwarna coklat yah.

Cacing Tanah

Anda dapat mencarinya di kebun-kebun belakang rumah, untuk mempermudah mendapatkan cacing berikut adalah lamgkah-langkah yang mungkin dapat ditiru.

Pertama, pilih tanah yang gembur dan ada gundukan kecil. Biasanya dibawah gundukan tersebut merupakan rumah cacing tanah. Kemudian cangkul tanah dengan menggunakan pacul, nanti akan terlihat cacing tanahnya. Segera ambil kalau tidak mereka dengan cepatnya akan masuk kembali keterowongan rumahnya.


Terakhir adalah tempat untuk menaruh cacing tersebut, anda dapat menggunakan 
daun pisang yang sudah tua (warna coklat) untuk tempat cacing tanahnya.

Jika Anda tidak tahan dengan bau cacing,  Anda dapat  memberikan sedikit bawang putih yang ditumbuk kemudian dicampur ama cacingnya (kayak buat dimakan aja ya..)
Katak Sawah

• Katak Kecil

Untuk mendapatkan katak kecil, Anda harus pergi ke sawah, karena disana biasanya banyak terdapat katak. Kemudian tangkap katak sebanyak-banyaknya lalu masukan ke kantong kresek/plastik.




3. Lokasi Pemancingan

• Pastikan bahwa sawah yang akan Anda pancing masih ada airnya. karena biasanya lokasi yang dipilih adalah sawah yang baru 1-2 bulan ditanami. Dapat juga sawah yang baru ditanami bibit padi tapi hasil pancingan berupa belut yang kecil-kecil (seukuran kelingking orang dewasa) atau kalau mau lebih dari  dua bulan ditanami padi, memang bisa mendapatkan belut sampai sukuran jempol kaki, namun bisanya  lebih susah, karena air sudah langka.

Sawah usia 1-2 bulan Tanam, Tempat Ideal Memancing Belut
• Carilah lubang di saluran air pinggir sawah (pematang). Biasanya terdapat belut seukuran  kelingking sampai jari telunjuk orang dewasa. Disana biasanyarumah si belut. Perhatikan jangan memancing di lubang sebesar lebih dari jempol kaki karena biasanya bukan belut yang didapat tapi ular sawah.
    
4. Cara Memancing

• Dari lubang yang telah ditemukan, masukan mata kail yang sudah diberi umpan katak/cacing tanah tersebut. Masukkan secara pelan dan perlahan.

• Setelah kail masuk kedalam lubang lalu putar-putar senar pancingnya secara pelan-pelan  tujuannya agar masuk kedalam lubang secara sempurna. (dikit demi sedkit rasakan kenikmatan, biarkan agak dalam masuknya)


• Lalu. naik turunkan senar pancingnya untuk memancing belut keluar. naik dan turunkan senar tersebut.


• Perhatikan tanda-tanda bahwa belut sudah bereaksi dengan kehadiran umpan tersebut. Biasanya ditandai dengan keluarnya kotoran lumpur bercampur air. Itu tanda-tanda si belut sudah akan menyambar si umpan.


• Ketika umpan disambar tentunya senar pancing akan menjadi tegang. Biarkan umpan kita dibawa kedalam lubang sambil ditahan senarnya.


• Setelah dirasa cukup segera tarik senar secara perlahan, angan ditarik dengan kuat.  pelan-pelan nikmati perlawanan belutnya. Bagian ini adalah bagian yang paling asyik dan menegangkan buat si pemancing.


• Setelah kepala belut keliatan dipermukaan bisa anda tarik senar pancing anda dan bantinglah si belut ke pematang sawah tujuannya agar  si belut pingsan supaya bisa kita mudah ambilnya.



• Untuk yang sudah master, dapat dipakai cara seperti ini. Jika belut sudah keluar  dari lubang dan terlihat kepalanya segera jepit kepalanya dengan menggunakan jempol dan telunjuk. Setelah itu tarik belutnya.


• ikat si belut dengan menggunakan tali rafia atau pelepah batang pisang yang sudah di suwir – suwir.


Sumber : Kaskus.us/670398 oleh Terazana & http://anakkail.blogspot.com